Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

Penjara Bawah Tanah di Balai Kota

Penjara bawah tanah abad ke-18 di Balai Kota Batavia kini menjadi Museum Sejarah Jakarta di Jalan Fatahillah, Jakarta Barat. Betapa mengerikan penjara tersebut. Ruang yang tingginya hanya dua setengah meter diisi puluhan orang hingga berjubelan. Para narapidana saat melakukan kerja paksa di luar penjara, kedua kakinya diikat dengan bola-bola besi seperti terlihat di foto.

Menurut sejarawan Belanda Hans Bonke, sampai 1763 memungkinkan untuk menahan seseorang seumur hidup karena berutang. Peraturan yang dibuat pemerintah Juli 1740 yang melarang orang Cina berkeliaran menyebabkan bahwa jumlah tahanan di penjara bertambah dengan 500 orang. Mereka ditempatkan di delapan tempat penjara bawah tanah yang sampai kini bisa kita saksikan di Museum Sejarah Jakarta.
Pada 10 Oktober 1740, ketika terjadi pembantaian 10 ribu orang Cina, ke 500 orang itu dibunuh. Di halaman muka museum yang kini dijadikan tempat rekreasi, dahulunya terdapat tiang gantungan. Dan, saat eksekusi masyarakat beramai-ramai menonton peristiwa yang mengerikan karena merupakan hiburan kala itu.

Masih menurut Hans Bonke, jumlah hukuman mati di Batavia pada abad ke-18 penduduknya 130 ribu jiwa, dua kali lebih besar dari Amsterdam yang berpenduduk 210 jiwa. Dalam balaikota, terdapat satu kamar penyiksaan seperti bangku dan alat skrup untuk menyakiti jari jari. Sekalipun tidak melakukan kesalahan, terdakwa mengaku perbuatannya tidak tahan menghadapi penyiksaan. Karena menurut hukum kolonial, seseorang baru bisa dijatuhkan hukuman bila dia mengaku melakukan perbuatan yang dituduhkan.

Kebanyakan perbuatan melawan hukum adalah persoalan kecil, seperti pencurian, fitnah, perbuatan makar karena mabuk atau berkelahi. Hukuman yang ringan adalah membayar denda atau pemecatan bagi pegawai kompeni, penahanan seluruh gajinya, dan mengembalikan terdakwa ke Belanda.
Pada abad ke-17 dam 18, homoseksualitas merupakan dosa paling berat. Dianggap ‘dosa terhadap Tuhan’, yang ditindak dengan hukuman mati.

Selasa, 14 April 2009

Sunan Gunungjati

From Wikipedia, the free encyclopedia

(Redirected from Sunan Gunung Jati)

Sunan Gunungjati was a Javanese wali who founded the city of Cirebon and the Banten Sultanate. Born as Syarif Hidayatullah in AD 1448, he was the son of Nyai Rara Santang, who was the daughter of Prabu Siliwangi (the ruler of Sunda kingdom). His father was Syarif Abdullah Maulana Huda, a leader in Egypt of Hashimite descendant from Palestine.
Sunan Gunungjati worked at Demak and Banten, and was the founder of Banten Sultanate. Many stories say that he was originally from Pasai in Aceh, others say that he was from Pajajaran (the capital of Sunda Kingdom) in West Java. He married the sister of Sultan Trenggono of Demak, and led military expeditions for Demak against Banten, a port of Sunda Kingdom (which was still Hindu at that time). As "Fatahillah" he defeated the Portuguese when they tried to take Sunda Kelapa (now Jakarta) in 1527.
Some stories have Sunan Gunungjati active around the 1470s and 1480s, under the name "Hidayatullah", other stories have him active around the 1520s, and associate him with the name "Fatahillah". In the 1480s he would have been the grandson of the king of Sunda Kingdom from Pajajaran; in the late 1520s he would have fought the Portuguese near what is today Jakarta. The problem is that some stories say that he died in 1568, by which time he would have been as old as 120 years! Some scholars think that there may have been more than one Gunungjati.[1]

Minggu, 12 April 2009

TONTONAN (Kebudayaan Bandung tempo dulu)

Kesenian tari tradisional (Ketuk Tilu)
Banyak ragam tontonan di Bandung tempo doeloe, mulai dari sandiwara, semi opera, kesenian atau yang bersifat adu ketangkasan.
Gedung kesenian tradisional berupa sandiwara (Sunda atau Jawa), seni tari, atau wayang, antara lain Yayasan Pusat Kesenian YPK (Naripan), Sri Moerni, Sri Waloejo, Sinar Laksana, Sri Soerja (Kosambi), Sinar Baru (Tegallega), Miss Eoeis (Kiaracondong), Soetera (Cibarengkok), Simpajwangi (Babakan Cipari), Sinar Moeda (Jelekong), dan Satija Wangi (Coblong).



Pemain perkumpulan Tonil Braga dalam
Opera Madame Butterfly


Toneelvereinging Braga atau Perkumpulan Tonil Sandiwara Braga didirikan pada tanggal 18 Juni 1882. Perkumpulan ini dipimpin oleh Asisten Residen Priangan, Piter Sitjoff. Tonil Braga disutradarai oleh Jan Fabricius, ayah dari sastrawan terkenal Belanda, Johan Fabricius.
Sebuah grup penghibur yang membawa balon gas pernah mengadakan pertujukan di Bandung Tempo doeloe, walaupun balon gas mereka hanya mampu terbang beberapa saat saja.





Sepeda berhiaskan bunga, peserta Bloemen Corso


Bloemen Corso (Pawai Bunga) merupakan tontonan menarik bagi warga Bandung Tempo Doeloe, yang diadakan pada setiap tahun. Bloemen Corso juga merupakan salah satu bukti bahwa Bandung tempo doeloe layak menyandang julukan Kota Kembang.



Bendi berhiaskan bunga, peserta Bloemen Corso
by : Sudarsono katam /Lulus Abadi